Industri Pembelajaran Yes, Industri Pendidikan No

Seseorang yang sangat saya hormati dan saya anggap sebagai guru kehidupan pernah mengatakan bahwa ada lima bidang kehidupan manusia yang tidak boleh diperdagangkan. Ketika terjadi hubungan antar manusia di lima bidang tersebut tidak boleh terjadi transaksi yang pertimbangannya untung rugi. Kelima bidang tersebut adalah pendidikan, agama, kesehatan,budaya & politik.

Contohnya di bidang kesehatan. Ketika seorang dokter mengobati pasien, seharusnya dilakukan dalam rangka menolong sesama atas dasar kemanusiaan. Bukan dalam rangka mencari keuntungan di atas penderitaan si pasien.

Ketika seorang dokter mengobati pasien memang membutuhkan fasilitas pendukung seperti gedung rumah sakit, peralatan, obat dan sebagainya. Semua fasilitas tersebut harus dibeli dengan uang. Tapi hal itu jangan dijadikan alasan komersialisasi di bidang kesehatan. Oleh karena itu saya sangat setuju kalau layanan kesehatan itu seharusnya menjadi kewajiban negara kepada warganya. Perlu penjelasan panjang tentang hal ini, kali ini saya hanya membahas sekilas saja.

Saya tidak akan membahas contoh di bidang agama, budaya dan politik. Kali ini kita bahas bidang pendidikan yang erat kaitannya dengan bisnis e-learning yang sedang saya rintis. Banyak yang menyebut bisnis ini sebagai bisnis pendidikan, padahal menurut saya ini bisnis pembelejaran. Menurut saya ada perbedaan prinsip antara pembelajaran dengan pendidikan. Sama seperti perbedaan antara guru dengan pengajar yang pernah saya bahas.

Pembelajaran merupakan proses transfer pengetahuan. Sedangkan pendidikan merupakan transfer nilai-nilai kebaikan seperti kejujuran, ketekunan, kegigihan, kesabaran, kerjasama, dll. Pendidikan itu membangun karakter dan akhlak. Proses pembelajaran bisa dilakukan melalui media teknologi, sedangkan proses pendidikan menurut saya harus dilakukan secara langsung, guru harus bertemu murid.

Saya yakin pendidikan atau tarbiyah dalam bahasa arab merupakan salah satu tugas kenabian. Setahu saya di semua kisah nabi dan rosul dalam kitab suci tidak ada satu pun nabi dan rosul yang meminta imbalan kepada umatnya. Di negara yang mengakui Tuhan, pendidikan seharusnya menjadi layanan gratis yang wajib diberikan negara kepada rakyatnya. Oleh karena itu saya menyakini bahwa pendidikan tidak boleh menjadi industri yang mengikuti mekanisme pasar.

Saya hanya pengajar, belum pantas menyandang predikat guru. Apa yang lakukan baru sekedar mengajar belum mendidik. Dan  jujur saja tujuan saya terjun di bisnis e-learning adalah untuk mendapatkan keuntungan materi.

Saya berharap bisnis  e-learning di Indonesia menjadi industri yang memberikan keuntungan materi bagi semua pihak yang terlibat di dalamnya. Kalau saya pribadi Insya Allah akan menyisihkan sebagian keuntungan dari bisnis e-learning untuk mewujudkan proyek-proyek idealis di bidang sosial dan pendidikan. Saya belum bisa cerita banyak mengenai hal ini, nanti saja kalau saya sudah bisa mewujudkannya.

Saya mengakui negara kita belum bisa menghadirkan layanan pendidikan gratis berkualitas untuk seluruh rakyat. Oleh karena itu saya tidak mau mencela pihak-pihak yang melakukan komersialisasi di bidang pendidikan.  Justru saya salut dengan mereka yang berani menginvestasikan dana yang cukup besar untuk menggarap bisnis pendidikan yang berkualitas. Layanan yang mereka tawarkan menjadi alternatif bagi sebagian masyarakat yang memiliki kemampuan membayar mahal layanan pendidikan berkualtias.

Namun saya memberikan apresiasi yang tinggi kepada meraka yang mendedikasikan hidupnya untuk memperjuangkan pendidikan berkualitas tanpa mempertimbangkan untung rugi. Semoga Tuhan menganugerahkan kebaikan dan keberkahan hidup untuk orang-orang seperti itu. Mudah-mudahan saya dapat kesempatan bekerjasama dengan orang-orang yang tulus seperti mereka.

*Sumber foto : https://moovone.eu/wp-content/uploads/2016/02/elearning.jpg

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *